Diberdayakan oleh Blogger.

AL-Qur'an Dan AL-Hadist

IP

Wikipedia

Hasil penelusuran

Membaca Al-Qur'an Online

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Konten/artikel apa yang paling kamu suka ?

buku tamu

Hamster GDC

PINGUIN GDC

Tambak lele GDC

Kura-kura GDC

Laporan cuaca

Text Widget

Sample Text

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Pengikut

Pengunjung

Flag Counter

Pages

Blogroll

Blogger templates


Rabu, 24 April 2013






إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد


   Sering kita ucapkan kalimat جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا artinya "semoga Alloh membalas anda dengan kebaikan" atau kalau pada wanita dari lafadz jazaaka menjadi jazaaki dan kalau orangnya banyakjazaakumullohu khoiroo(n).

Dari Usamah bin Zaid berkata, Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang diberikan suatu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengucapkanjazaakalloohu khoiroo(n)  berarti dia telah sempurna dalam memuji.” HR. At-Tirmidzi, no. 2035, Abu 'Isya (at-Tirmidzi) berkata : Hasan Jayyid Ghorib

Dan sabda Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam:

مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ

وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ

“Siapa yang diberi pemberian maka hendaklah dia membalasnya dengan itu pula. Kalau tidak maka dengan memuji, sebab dengan memuji berarti telah berterimakasih dan siapa yang menyembunyikan (kebaikan orang padanya) berarti dia telah kufur nikmat.” HR. At-Tirmidzi, no. 2034

Berterimakasih kepada sesama manusia merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat Alloh, sebagaimana dalam hadits dari Abu Huroiroh bahwa Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

”Tidak dinamakan bersyukur kepada Alloh bagi siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia.” HR. Abu Daud, no. 4811, At Tirmidzi no. 1954, Albani: shohih

Hadits ini mengandung makna, orang yang kebiasaannya mengingkari nikmat dari manusia, maka juga akan menjadi tabiatnya mengingkari nikmat Alloh.

Alloh tidak menerima syukur dari seorang hamba kalau si hamba itu tidak pandai bersyukur dengan berterimakasih atas kebaikan orang lain, karena keduanya saling berhubungan.

Hubungan hamba kepada tuhanNya (Alloh) dan hamba kepada manusia
Semoga bermanfaat

From: أبو هريره
Adab

Lafadz atau ucapan syukur جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

Posted by Unknown  |  No comments






إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد


   Sering kita ucapkan kalimat جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا artinya "semoga Alloh membalas anda dengan kebaikan" atau kalau pada wanita dari lafadz jazaaka menjadi jazaaki dan kalau orangnya banyakjazaakumullohu khoiroo(n).

Dari Usamah bin Zaid berkata, Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang diberikan suatu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengucapkanjazaakalloohu khoiroo(n)  berarti dia telah sempurna dalam memuji.” HR. At-Tirmidzi, no. 2035, Abu 'Isya (at-Tirmidzi) berkata : Hasan Jayyid Ghorib

Dan sabda Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam:

مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ

وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ

“Siapa yang diberi pemberian maka hendaklah dia membalasnya dengan itu pula. Kalau tidak maka dengan memuji, sebab dengan memuji berarti telah berterimakasih dan siapa yang menyembunyikan (kebaikan orang padanya) berarti dia telah kufur nikmat.” HR. At-Tirmidzi, no. 2034

Berterimakasih kepada sesama manusia merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat Alloh, sebagaimana dalam hadits dari Abu Huroiroh bahwa Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

”Tidak dinamakan bersyukur kepada Alloh bagi siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia.” HR. Abu Daud, no. 4811, At Tirmidzi no. 1954, Albani: shohih

Hadits ini mengandung makna, orang yang kebiasaannya mengingkari nikmat dari manusia, maka juga akan menjadi tabiatnya mengingkari nikmat Alloh.

Alloh tidak menerima syukur dari seorang hamba kalau si hamba itu tidak pandai bersyukur dengan berterimakasih atas kebaikan orang lain, karena keduanya saling berhubungan.

Hubungan hamba kepada tuhanNya (Alloh) dan hamba kepada manusia
Semoga bermanfaat

From: أبو هريره

10.36 Share:

Selasa, 23 April 2013









إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد


     Salah satu praktek dari usaha “menjaga hidayah” yang paling efektif adalah; Di mana saja kita berada hendaklah senantiasa berusaha untuk bergaul dengan orang-orang yang sholih serta menempatkan diri di lingkungan mereka, sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah Saw;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ. رواه أبو داود: ٤٨٣٥ و الترمذي: ٢٣٧٨

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi Saw bersabda; Seseorang atas agama “kekasih” (teman dekat)nya maka hendaklah setiap kalian memperhatikan kepada siapakah dia berteman dekat. HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. (Hasan)

     Ilmu2 agama berupa dalil2 Qur’an Hadits serta nasehat dari para penasehat di dalam majlis akan menghasilkan "an-Nur" (kefahaman yang bersinar terang di dalam hati) jika di sekeliling kita adalah kaum muslimin yang faham yang istiqamah di dalam ketaatan, merekalah yg seringkali menjadi penyemangat serta sumber inspirasi bagi kita untuk mengamalkan semua ilmu Qur'an dan Hadist yang telah kita kaji dalam kehidupan sehari-hari.

  Alm. Syekh Nurhasan : membuat perumpamaan bahwa putihnya beras bukan karena tumbukan “alu” (kayu untuk menumbuk padi) melainkan karena gesekan sesama beras itu sendiri, maksud gambaran tsb adalah; munculnya kefahaman yang mantap seringkali bukan semata-mata dari ilmu yg kita terima langsung dari guru melainkan dari interaksi (saling mengingatkan dan saling menasehati) sesama kaum muslimin dalam kehidupan sehari-hari.

   Sebagai contoh ketika seorang ulama nasehat tentang keutamaan menghafalkan al-Qur’an, kemudian diperkuat dan ditindak-lanjuti oleh kepengurusan di majlisnya masing-masing dengan membuat program-program yg tersusun dengan baik, maka dengan sendirinya jamaah di daerah tersebut terkondisi untuk menghafalkan al-Qur’an, sehingga bukan hal yg “ajaib” jika kemudian di daerah tersebut para jamaahnya hafal al-Qur’an, setidak-tidaknya (yg paling lemah hafalannya) mampu menghafal satu atau dua juz dari al-Qur’an.

   Contoh lagi, jika kita amati daerah-daerah majlis yang betul-betul fokus dengan program pembinaan generasi penerus (khususnya muda-mudi), dimana program-program tersebut secara tidakk langsung mengkondisikan para muda-mudi untuk kerap berinteraksi satu dengan lainnya, maka hasilnya “luar biasa”, rata-rata muda-mudi di jamaah tersebut mempunyai faham agama yang mantap, dg “militansi” Qur'an dan Hadist nya yg sangat membanggakan. ini semua adalah bukti nyata dari apa yg telah disabdakan oleh Rasulullah Saw:

عن أبي موسى رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مثل الجليس الصالح والجليس السوء كمثل صاحب المسك وكير الحداد، لا يعدمك من صاحب المسك إما تشتريه أو تجد ريحه، وكير الحداد يحرق بدنك أو ثوبك أو تجد منه ريحا خبيثة. رواه البخاري : ١٩٩٥

Dari Abi Musa Ra dia berkata Rasulullah Saw bersabda; Perumpamaan teman yg sholih dan teman yg jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pembakaran besi, dapat dipastikan bahwa dari penjual minyak wangi adakalanya kamu membeli minyak itu atau setidaknya kamu mencium bau wanginya, sedangkan dari pembakaran besi kalau tidak membakar badanmu atau pakaianmu, atau setidaknya kamu mencium bau (asap) yang jelek. HR. al-Bukhari.



PENGARUH DARI LINGKUNGAN (PERGAULAN) YANG TIDAK BAIK

     Sebaliknya “daerah” yang tidak terlalu care dengan program pembinaan generasi penerus, sehingga para muda-mudinya jarang bisa bertemu apalagi berinteraksi satu dg yg lainnya, waktu mereka lebih banyak dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan bersama teman-temannya “di luar”, biasanya kefahaman agama muda-mudi di daerah tersebut menjadi sangat rapuh.

   Hati mereka menjadi “gersang”, hilang semangat serta daya juangnya, sama sekali tidak dapat merasakan “istimewa”nya menjadi “orang muslim”, kemudian muncul anggapan bahwa muslim dan tidak muslim sama saja, termasuk dampak yang parah adalah; rusaknya mental serta akhlaq mereka sehingga diantara mereka ada yg terjerumus pada kehidupan yang penuh dengan kemaksiatan, antara lain pergaulan bebas, narkoba dsb.

   Jika di sekeliling kita adalah orang-orang yang tidak faham agama, maka sebanyak apapun ilmu-ilmu yang kita dapatkan akan semuanya itu akan “membusuk dengan sia-sia”, sebagai contoh walaupun kita mengaji berkali-kali khatam bab pakaian, khususnya kaum lelaki pakaian bawahnya (celana atau sarung dan sejenisnya) di mana Rasulullah Saw menegaskan bahwa pakaian lelaki yg “ngelembreh” ancamannya adalah neraka.


   Demikian pula dengan para muda-mudi muslimin, walaupun berkali-kali dimanquulkan dalil-dalil yang menunjukkan bab keharamannya berpacaran serta perbuatan (pelanggaran) yang mendekatkan pada perzinaan antara lain; telphon-teleponan, sms-smsan, chatting dengan mesra terhadap lawan jenis yang bukan mahromnya dsb, namun dikarenakan lingkungan di sekitarnya, yakni teman-teman pergaulannya adalah mereka yg biasa dengan perbuatan-perbuatan haram tersebut maka dalil serta nasehat yg diterima setiap acara sambung (pengajian) juga akan sia sia.

KESIMPULAN

    di dalam Majlis seperti pengajian rutin di Masjid daerah tempat tinggalnya masing-masing serta kegiatan-kegiatan yang lainnya selain merupakan ibadah dengan ganjaran yang luar biasa, ternyata juga bagian dari upaya menempatkan diri di “zona aman” dari gangguan setan serta bala tentaranya, sebab dengan tertib menghadiri  Pengajian maka berarti kita senantiasa berada di lingkungan orang-orang yg diistimewakan oleh Allah dengan hidayahNya, perilaku-prilaku akhlaqul karimah sebagian dari kaum muslimin misalnya ada yg penyabar, ada yg ahli shodaqoh, ada yg ahli puasa sunnah dsb menjadi "perangsang" bagi muslim/jamaah yg lainnya untuk melakukan hal yg sama.

Sebaliknya seorang muslim yang menjauhkan diri dari acara Majlis, serta kegiatan pengajian yang lainnya di dalam islam, sadar atau tidak sadar, sebenarnya dia telah memposisikan diri; bagaikan domba yang nyasar ke dalam sarang serigala-serigala yang kelaparan (semoga Allah membimbingnya untuk kembali tertib di dalam ibadah kepada Alloh).

Mudah-mudahan Allah menetapkan kita di dalam hidayahNya, dan mudah-mudahanan artikel ini bermanfaat.

Adab

PerananTeman Pergaulan ,Bagi Kefahaman Agama

Posted by Unknown  |  No comments









إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد


     Salah satu praktek dari usaha “menjaga hidayah” yang paling efektif adalah; Di mana saja kita berada hendaklah senantiasa berusaha untuk bergaul dengan orang-orang yang sholih serta menempatkan diri di lingkungan mereka, sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah Saw;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ. رواه أبو داود: ٤٨٣٥ و الترمذي: ٢٣٧٨

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi Saw bersabda; Seseorang atas agama “kekasih” (teman dekat)nya maka hendaklah setiap kalian memperhatikan kepada siapakah dia berteman dekat. HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. (Hasan)

     Ilmu2 agama berupa dalil2 Qur’an Hadits serta nasehat dari para penasehat di dalam majlis akan menghasilkan "an-Nur" (kefahaman yang bersinar terang di dalam hati) jika di sekeliling kita adalah kaum muslimin yang faham yang istiqamah di dalam ketaatan, merekalah yg seringkali menjadi penyemangat serta sumber inspirasi bagi kita untuk mengamalkan semua ilmu Qur'an dan Hadist yang telah kita kaji dalam kehidupan sehari-hari.

  Alm. Syekh Nurhasan : membuat perumpamaan bahwa putihnya beras bukan karena tumbukan “alu” (kayu untuk menumbuk padi) melainkan karena gesekan sesama beras itu sendiri, maksud gambaran tsb adalah; munculnya kefahaman yang mantap seringkali bukan semata-mata dari ilmu yg kita terima langsung dari guru melainkan dari interaksi (saling mengingatkan dan saling menasehati) sesama kaum muslimin dalam kehidupan sehari-hari.

   Sebagai contoh ketika seorang ulama nasehat tentang keutamaan menghafalkan al-Qur’an, kemudian diperkuat dan ditindak-lanjuti oleh kepengurusan di majlisnya masing-masing dengan membuat program-program yg tersusun dengan baik, maka dengan sendirinya jamaah di daerah tersebut terkondisi untuk menghafalkan al-Qur’an, sehingga bukan hal yg “ajaib” jika kemudian di daerah tersebut para jamaahnya hafal al-Qur’an, setidak-tidaknya (yg paling lemah hafalannya) mampu menghafal satu atau dua juz dari al-Qur’an.

   Contoh lagi, jika kita amati daerah-daerah majlis yang betul-betul fokus dengan program pembinaan generasi penerus (khususnya muda-mudi), dimana program-program tersebut secara tidakk langsung mengkondisikan para muda-mudi untuk kerap berinteraksi satu dengan lainnya, maka hasilnya “luar biasa”, rata-rata muda-mudi di jamaah tersebut mempunyai faham agama yang mantap, dg “militansi” Qur'an dan Hadist nya yg sangat membanggakan. ini semua adalah bukti nyata dari apa yg telah disabdakan oleh Rasulullah Saw:

عن أبي موسى رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مثل الجليس الصالح والجليس السوء كمثل صاحب المسك وكير الحداد، لا يعدمك من صاحب المسك إما تشتريه أو تجد ريحه، وكير الحداد يحرق بدنك أو ثوبك أو تجد منه ريحا خبيثة. رواه البخاري : ١٩٩٥

Dari Abi Musa Ra dia berkata Rasulullah Saw bersabda; Perumpamaan teman yg sholih dan teman yg jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pembakaran besi, dapat dipastikan bahwa dari penjual minyak wangi adakalanya kamu membeli minyak itu atau setidaknya kamu mencium bau wanginya, sedangkan dari pembakaran besi kalau tidak membakar badanmu atau pakaianmu, atau setidaknya kamu mencium bau (asap) yang jelek. HR. al-Bukhari.



PENGARUH DARI LINGKUNGAN (PERGAULAN) YANG TIDAK BAIK

     Sebaliknya “daerah” yang tidak terlalu care dengan program pembinaan generasi penerus, sehingga para muda-mudinya jarang bisa bertemu apalagi berinteraksi satu dg yg lainnya, waktu mereka lebih banyak dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan bersama teman-temannya “di luar”, biasanya kefahaman agama muda-mudi di daerah tersebut menjadi sangat rapuh.

   Hati mereka menjadi “gersang”, hilang semangat serta daya juangnya, sama sekali tidak dapat merasakan “istimewa”nya menjadi “orang muslim”, kemudian muncul anggapan bahwa muslim dan tidak muslim sama saja, termasuk dampak yang parah adalah; rusaknya mental serta akhlaq mereka sehingga diantara mereka ada yg terjerumus pada kehidupan yang penuh dengan kemaksiatan, antara lain pergaulan bebas, narkoba dsb.

   Jika di sekeliling kita adalah orang-orang yang tidak faham agama, maka sebanyak apapun ilmu-ilmu yang kita dapatkan akan semuanya itu akan “membusuk dengan sia-sia”, sebagai contoh walaupun kita mengaji berkali-kali khatam bab pakaian, khususnya kaum lelaki pakaian bawahnya (celana atau sarung dan sejenisnya) di mana Rasulullah Saw menegaskan bahwa pakaian lelaki yg “ngelembreh” ancamannya adalah neraka.


   Demikian pula dengan para muda-mudi muslimin, walaupun berkali-kali dimanquulkan dalil-dalil yang menunjukkan bab keharamannya berpacaran serta perbuatan (pelanggaran) yang mendekatkan pada perzinaan antara lain; telphon-teleponan, sms-smsan, chatting dengan mesra terhadap lawan jenis yang bukan mahromnya dsb, namun dikarenakan lingkungan di sekitarnya, yakni teman-teman pergaulannya adalah mereka yg biasa dengan perbuatan-perbuatan haram tersebut maka dalil serta nasehat yg diterima setiap acara sambung (pengajian) juga akan sia sia.

KESIMPULAN

    di dalam Majlis seperti pengajian rutin di Masjid daerah tempat tinggalnya masing-masing serta kegiatan-kegiatan yang lainnya selain merupakan ibadah dengan ganjaran yang luar biasa, ternyata juga bagian dari upaya menempatkan diri di “zona aman” dari gangguan setan serta bala tentaranya, sebab dengan tertib menghadiri  Pengajian maka berarti kita senantiasa berada di lingkungan orang-orang yg diistimewakan oleh Allah dengan hidayahNya, perilaku-prilaku akhlaqul karimah sebagian dari kaum muslimin misalnya ada yg penyabar, ada yg ahli shodaqoh, ada yg ahli puasa sunnah dsb menjadi "perangsang" bagi muslim/jamaah yg lainnya untuk melakukan hal yg sama.

Sebaliknya seorang muslim yang menjauhkan diri dari acara Majlis, serta kegiatan pengajian yang lainnya di dalam islam, sadar atau tidak sadar, sebenarnya dia telah memposisikan diri; bagaikan domba yang nyasar ke dalam sarang serigala-serigala yang kelaparan (semoga Allah membimbingnya untuk kembali tertib di dalam ibadah kepada Alloh).

Mudah-mudahan Allah menetapkan kita di dalam hidayahNya, dan mudah-mudahanan artikel ini bermanfaat.

02.49 Share:

Minggu, 21 April 2013




إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد


"Sesungguhnya yang petama kali akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah perkara shalat. Jika Shalatnya baik, maka baikpula seluruh amalan ibadah lainnya, kemudian semua amalannya akan dihitung atas hal itu."
(HR. An Nasa'I : 463)

Banyak orang yang lalai dalam shalat, tanpa sengaja melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak diketahuinya, yang mungkin bisa memubat amalan shalatnya tidak sempurna.

kami akan paparkan kesalahan yang sering terjadi dalam shalat.

1. Menunda–nunda Shalat dari waktu yang telah ditetapkan
Hal ini merupakan pelanggaran berdasarkan firman Allah,

, "Sesungguhnya shalat suatu kewajiban yang telah ditetepkan waktunya bagi orang-orang beriman". (QS. An-Nisa : 103)

2. Tidak shalat berjamah di masjid bagi laki-laki

Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang mendengar panggilan (azan) kemudian tidak menjawabnya (dengan mendatangi shalat berjamaah), kecuali uzur yang dibenarkan". (HR. Ibnu Majah Shahih) Dalam hadits bukhari dan Muslim disebutkan. "Lalu aku bangkit (setelah shalat dimulai) dan pergi menuju orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, kemudian aku akan membakar rumah-rumah mereka hingga rata dengan tanah."

3. Tidak tuma'minah dalam shalat

Makna tuma'minah adalah, seseorang yang melakukan shalat, diam (tenang) dalam ruku'.i'tidal,sujud dan duduk diantara dua sujud. Dia harus ada pada posisi tersebut, dimana setiap ruas-ruas tulang ditempatkan pada tempatnya yang sesuai.

Tidak boleh terburu-buru di antara dua gerakan dalam shalat, sampai dia selesai tuma'ninah dalam posisi tertentu sesuai waktunya. Nabi bersabda kepada seseorang yang tergegesa dalam shalatnya tanpa memperlihatkan tuma;minah dengan benar, "Ulangi shalatmu, sebab kamu belum melakukan shalat."

4. Tidak khusu' dalam shalat, dan melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan di dalamnya.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya, seseorang beranjak setelah megnerjakan shalatnya dan tidak ditetapkan pahala untuknya kecuali hanya sepersepuluh untuk shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga atau setangah darinya. " (HR. Abu Dawud, Shahih) mereka tidak mendapat pahala shlatnya dengan sempurna disebabkan tidak adanya kekhusyu'an dalam hati atau melakukan gerakan-gerakan yang melalaikan dalam shalat.

5. Sengaja mendahului gerakan iman atau tidak mengikuti gerakan-gerakannya.

Perbuatan ini dapat membatalkan shalat atau rakaat-rakaat. Merupakan suatu kewajiban bagi mukmin untuk mengikuti imam secara keseluruhan tanpa mendahuluinya atau melambat-lambatkan sesudahnya pada setiap rakaat shalat.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya dijadikan imam itu untuk diikuti keseluruhannya. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah, dan jangan bertakbir sampai imam bertakbir, dan jika dia ruku' maka ruku'lah dan jangan ruku' sampai imam ruku' ". (HR. Bukhari)

6. Berdiri untuk melngkapi rakaat yang tertinggal sebelum imam menyelesaikan tasyahud akhir dengan mengucap salam ke kiri dan kekanan
Rasulullah bersabda, "Jangan mendahuluiku dalam ruku', sujud dan jangan pergi dari shalat (Al-Insiraf)". Para ulama berpedapat bahwa Al-Insiraf, ada pada tasyahud akhir. Seseorang yang mendahului imam harus tetap pada tempatnya sampai imam menyelesaikan shalatnya (sempurna salamnya). Baru setalah itu dia berdiri dan melengkapi rakaat yang tertinggal.

7. Melafadzkan niat.
Tidak ada keterangan dari nabi maupun dari para sahabat bahwa mereka pernah melafadzkan niat shalat. Ibnul Qayyim menyatakan dalam Zadul-Ma'ad "Ketika Nabi berdiri untuk shalat beliau mengucapkan "Allahu Akbar", dan tidak berkata apapun selain itu. Beliau juga tidak melafalkan niatnya dengan keras.

8. Membaca Al-Qur'an dalam ruku' atau selama sujud.

Hal ini dilarang, berdasarkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi bersabda, "saya telah dilarang untuk membaca Al-Qur'an selama ruku' atau dalam sujud." (HR. Muslim)

9. Memandang keatas selama shalat atau melihat ke kiri dan ke kanan tanpa alasan tertentu.

Rasulullah bersabda, "Cegalah orang-orang itu untuk mengangkat pandangan keatas atau biarkan pandangan mereka tidak kembali lagi". (HR. Muslim)

10. Melihat ke sekeliling tanpa ada keperluan apapun.

Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa ia berkata, "Aku berkata kepada Rasulullah tentang melihat ke sekeliling dalam shalat, Beliau menjawab, "Itu adalah curian yang sengaja dibisikan setan pada umat dalam shalatnya". (HR. Bukhari)

11. Seorang wanita yang tidak menutupi kepala dan kakinya dalam shalat.

Sabda Rasulullah, "Allah tidak menerima shalat wania yang sudah mencapai usia-haid, kecuali jika dia memakai jilbab (khimar)". (HR. Ahmad)

12. Berjalan di depan orang yang shalat baik orang yang dilewati di hadapanya itu sebagai imam, maupun sedang shalat sendirian dan melangka (melewati) di antara orang selama khutbah shalat Jum'at.

Rasulullah bersabda, "Jika orang yang melintas didepan orang yang sedang shalat mengetahui betapa beratnya dosa baginya melakukan hal itu, maka akan lebih baik baginya untuk menunggu dalam hitungan 40 tahun dari pada berjalan didepan orang shalat itu". (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun lewat diantara shaf orang yang sedang shalat berjamaah, maka hal itu diperbolehkan menurut jumhur bedasarkan hadits Ibnu Abbas :

"Saya datang dengan naik keledai, sedang saya pada waktu itu mendekati baligh. Rasulullah sedang shalat bersama orang –orang Mina menghadap kedinding. Maka saya lewat didepan sebagian shaf, lalu turun dan saya biarkan keledai saya, maka saya masuk kedalam shaf dan tidak ada seorangpun yang mengingkari perbuatan saya". (HR. Al-Jamaah).

Ibnu Abdil Barr berkata, "Hadits Ibnu Abbas ini menjadi pengkhususan dari hadits Abu Sa'id yang berbunyi "Jika salah seorang dari kalian shalat, jangan biarkan seseorangpun lewat didepannya". (Fathul Bari: 1/572)

13. Tidak mengikuti imam (pada posisi yang sama) ketika datang terlambat baik ketika imam sedang duduk atau sujud.

Sikap yang dibenarkan bagi seseorang yang memasuki masjid adalah segera mengikuti imam pada posisi bagaimanapun, baik dia sedang sujud atau yang lainnya.

14. Seseorang bermain dengan pakaian atau jam atau yang lainnya.
Hal ini mengurangi kekhusyu'an. Rasulullah melarang mengusap krikil selama shalat, karna dapat merusak kekhusyu'an, Beliau bersabda, "Jika salah seorang dari kalian sedang shalat, cegahlah ia untuk tidak menghapus krikil sehingga ampunan datang padanya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)

15. Menutup mata tanpa alasan

Hal ini makruh sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, "Menutup mata buka dari sunnah rasul ". Yang terbaik adalah, jika membuka mata tidak merusak kekhusyu'an shalat, maka lebih baik melakukannya. Namun jika hiasan, ornament dsn sebagainya disekitar orang yang shalat atau antara dirinya dengan kiblat mengganggu konsentrasinya, maka dipoerbolehkan menutup mata. Namun demikian pernyataan untuk melakukan hal itu dianjurkan (mustahab) pada kasus ini. Wallahu A'lam.

16. Makan atau minum atau tertawa.

"Para ulama berkesimpulan orang yang shalat dilarang makan dan minum. Juga ada kesepakatan diantara mereka bahwa jika seseorang melakukannya dengan sengaja maka ia harus mengulang shalatnya.

17. Mengeraskan suara hingga mengganggu orang-orang di sekitarnya.
Ibnu Taimuiyah menyatakan, "Siapapun yang membaca Al-Qur'an dan orang lain sedang shlat sunnah, maka tidak dibenarkan baginya untuk membacanya dengan suara keras karena akan mengganggu mereka. Sebab, Nabi pernah meninggalkan sahabat-sahabatnya ketika mereka shalat ashar dan Beliau bersabda, "Hai manusia setiap kalian mencari pertolongan dari Robb kalian. Namun demikian, jangan berlebihan satu sama lain dengan bacaan kalian".

18. Menyela di antara orang yang sedang shalat.
Perbuatan ini teralarang, karena akan mengganggu. Orang yang hendak menunaikan shalat hendaknya shalat pada tempat yang ada. Namun jika ia melihat celah yang memungkinkan baginya untuk melintas dan tidak mengganggu, maka hal ini di perbolehkan. Larangan ini lebih ditekankan pada jama'ah shalat Jum'at, hal ini betul-betul dilarang. Nabi bersabda tentang mereka yang melintasi batas shalat, "Duduklah! Kamu mengganggu dan terlambat datang".

19. Tidak meluruskan shaf.

Nabi bersabda, "Luruskan shafmu, sesungguhnya meluruskan shaf adalah bagian dari mendirikan shalat yang benar" (HR. Bukhari dan Muslim).

20. Mengangkat kaki dalam sujud.

Hal ini bertentangan dengan yang diperintahkan sebagaimana diriwayatkan dalam dua hadits shahih dari Ibnu Abbas, "Nabi telah memerintah bersujud dengan tujuh anggota tubuh dan tidak mengangkat rambut atau dahi (termasuk hidung), dua telapak tangan, dua lutut, dan dua telapak kaki." Jadi seseorang yang shalat (dalam sujud), harus dengan dua telapak kaki menyentuk lantai dan menggerakan jari-jari kaki menghadap kiblat. Tiap bagian kaki harus menyentuk lantai. Jika diangkat salah satu dari kakinya, sujudnya tidak benar. Sepanjang dia lakukan dalam sujud.

21. Melatakkan tangan kiri dia atas tangan kanan dan memposisikannya di leher.
Hal ini berlawanan dengan sunnah karena Nabi meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan meletakkan keduanya di dada beliau. Ini hadits hasan dari beberapa sumber yang lemah di dalamya. Tapi dalam hubungannya saling menguatkan di antara satu dengan lainnya.

22. Tidak berhati-hati untuk melakukan sujud dengan tujuh angota tubuh(seperti dengan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutuk dan jari-jari kedua telapak kaki).

Rasulallah bersabda, "Jika seorang hamba sujud, maka tujuh anggota tubuh harus ikut sujud bersamanya: wajah, kedua telapak tangan kedua lutut dan kedua kaki". (HR. Muslim)

23. Menyembunyikan persendian tulang dalam shalat.

Ini adala perbuatan yang tidak dibenarkan dalam shalat. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits dengan sanad yang baik dari Shu'bah budak Ibnu Abbas yang berkata, "Aku shalat di samping Ibnu Abbas dan aku menyembunyikan persedianku." Selesai shalat di berkata, "Sesungguhnya kamu kehilangan ibumu!, karena menyembunyikan persendian ketika kamu shalat!".

24. Membunyikan dan mepermainkan antar jari-jari (tasbik) selama dan sebelum shalat.
Rasulallah, "Jika salah seorang dari kalian wudhu dan pergi kemasjid untuk shalat, cegahlah dia memainkan tangannya karena (waktu itu) ia sudah termasuk waktu shalat." (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi)

25. Menjadikan seseorang sebagai imam, padahal tidak pantas, dan ada orang lain yang lebih berhak.
Merupakan hal yang penting, bahwa seorang imam harus memiliki pemahaman tentang agama dan mampu membaca Al-Qur'an dengan benar. Sebagaimana sabda Nabi "Imam bagi manusia adalah yang paling baik membaca Al-Qur'an" (HR. Muslim)

26. Wanita masuk ke masjid dengan mempercantik diri atau memakai harum-haruman.
Nabi bersabda, "Jangan biarkan perempuan yang berbau harum menghadiri shalat isya bersama kita." (HR. Muslim)

27. Shalat dengan pakaian yang bergambar, apalagi gambar makhluk bernyawa.
Termasuk pakaian yang terdapat tulisan atau sesuatu yang bisa merusak konsentrasi orang yang shalat di belakangnya.

28. Shalat dengan sarung, gamis dan celana musbil melebihi mata kaki).

Banyak hadits rasulullah yang meyebutkan larangan berbuat isbal diantaranya :

A. Rasulullah bersabda : sesungguhnya allah tidak menerima shalat seseorang lelaki yang memakain sarung dengan cara musbil." (HR. Abu Dawud (1/172 no. 638)

B. Rasulullah bersabda : Allah tidak (akan) melihat shalat seseorang yang mengeluarkan sarungnya sampai kebawah (musbil) dengan perasaan sombong." (Shahih Ibnu Khuzaimah 1/382)

C. Rasulullah bersabda : "Sarung yang melebihi kedua mata kaki, maka pelakunya di dalam neraka." (HR.Bukhari : 5887)

29. Shalat di atas pemakaman atau menghadapnya.

Rasulullah berabda, "Jangan kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena sesungguhnya aku telah melarang kalian melakukan hal itu." (HR. Muslim : 532)

30. Shalat tidak menghadap ke arah sutrah (pembatas).

Nabi melarang perbuatan tersebut seraya bersabda : "Apabila salah seorang diantara kalian shalat menghadap sutrah, hendaklah ia mendekati sutahnya sehingga setan tidak dapat memutus shalatnya. (Shahih Al-Jami' : 650)

Inilah contoh perbuatan beliau "Apabila beliau shalat di tempat terbuka yang tidak ada seorangpun yang menutupinya, maka beliau menamcapkan tombak di depannya, lalu shalat menghadap tombak tersebut, sedang para sahabat bermakmum di belakangnya. Beliau tidak membiarkan ada sesuatu yang lewat di antara dirinya dan sutrah tresebut."

30 Kesalahan Dalam Shalat

Posted by Unknown  |  No comments




إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد


"Sesungguhnya yang petama kali akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah perkara shalat. Jika Shalatnya baik, maka baikpula seluruh amalan ibadah lainnya, kemudian semua amalannya akan dihitung atas hal itu."
(HR. An Nasa'I : 463)

Banyak orang yang lalai dalam shalat, tanpa sengaja melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak diketahuinya, yang mungkin bisa memubat amalan shalatnya tidak sempurna.

kami akan paparkan kesalahan yang sering terjadi dalam shalat.

1. Menunda–nunda Shalat dari waktu yang telah ditetapkan
Hal ini merupakan pelanggaran berdasarkan firman Allah,

, "Sesungguhnya shalat suatu kewajiban yang telah ditetepkan waktunya bagi orang-orang beriman". (QS. An-Nisa : 103)

2. Tidak shalat berjamah di masjid bagi laki-laki

Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang mendengar panggilan (azan) kemudian tidak menjawabnya (dengan mendatangi shalat berjamaah), kecuali uzur yang dibenarkan". (HR. Ibnu Majah Shahih) Dalam hadits bukhari dan Muslim disebutkan. "Lalu aku bangkit (setelah shalat dimulai) dan pergi menuju orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, kemudian aku akan membakar rumah-rumah mereka hingga rata dengan tanah."

3. Tidak tuma'minah dalam shalat

Makna tuma'minah adalah, seseorang yang melakukan shalat, diam (tenang) dalam ruku'.i'tidal,sujud dan duduk diantara dua sujud. Dia harus ada pada posisi tersebut, dimana setiap ruas-ruas tulang ditempatkan pada tempatnya yang sesuai.

Tidak boleh terburu-buru di antara dua gerakan dalam shalat, sampai dia selesai tuma'ninah dalam posisi tertentu sesuai waktunya. Nabi bersabda kepada seseorang yang tergegesa dalam shalatnya tanpa memperlihatkan tuma;minah dengan benar, "Ulangi shalatmu, sebab kamu belum melakukan shalat."

4. Tidak khusu' dalam shalat, dan melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan di dalamnya.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya, seseorang beranjak setelah megnerjakan shalatnya dan tidak ditetapkan pahala untuknya kecuali hanya sepersepuluh untuk shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga atau setangah darinya. " (HR. Abu Dawud, Shahih) mereka tidak mendapat pahala shlatnya dengan sempurna disebabkan tidak adanya kekhusyu'an dalam hati atau melakukan gerakan-gerakan yang melalaikan dalam shalat.

5. Sengaja mendahului gerakan iman atau tidak mengikuti gerakan-gerakannya.

Perbuatan ini dapat membatalkan shalat atau rakaat-rakaat. Merupakan suatu kewajiban bagi mukmin untuk mengikuti imam secara keseluruhan tanpa mendahuluinya atau melambat-lambatkan sesudahnya pada setiap rakaat shalat.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya dijadikan imam itu untuk diikuti keseluruhannya. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah, dan jangan bertakbir sampai imam bertakbir, dan jika dia ruku' maka ruku'lah dan jangan ruku' sampai imam ruku' ". (HR. Bukhari)

6. Berdiri untuk melngkapi rakaat yang tertinggal sebelum imam menyelesaikan tasyahud akhir dengan mengucap salam ke kiri dan kekanan
Rasulullah bersabda, "Jangan mendahuluiku dalam ruku', sujud dan jangan pergi dari shalat (Al-Insiraf)". Para ulama berpedapat bahwa Al-Insiraf, ada pada tasyahud akhir. Seseorang yang mendahului imam harus tetap pada tempatnya sampai imam menyelesaikan shalatnya (sempurna salamnya). Baru setalah itu dia berdiri dan melengkapi rakaat yang tertinggal.

7. Melafadzkan niat.
Tidak ada keterangan dari nabi maupun dari para sahabat bahwa mereka pernah melafadzkan niat shalat. Ibnul Qayyim menyatakan dalam Zadul-Ma'ad "Ketika Nabi berdiri untuk shalat beliau mengucapkan "Allahu Akbar", dan tidak berkata apapun selain itu. Beliau juga tidak melafalkan niatnya dengan keras.

8. Membaca Al-Qur'an dalam ruku' atau selama sujud.

Hal ini dilarang, berdasarkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi bersabda, "saya telah dilarang untuk membaca Al-Qur'an selama ruku' atau dalam sujud." (HR. Muslim)

9. Memandang keatas selama shalat atau melihat ke kiri dan ke kanan tanpa alasan tertentu.

Rasulullah bersabda, "Cegalah orang-orang itu untuk mengangkat pandangan keatas atau biarkan pandangan mereka tidak kembali lagi". (HR. Muslim)

10. Melihat ke sekeliling tanpa ada keperluan apapun.

Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa ia berkata, "Aku berkata kepada Rasulullah tentang melihat ke sekeliling dalam shalat, Beliau menjawab, "Itu adalah curian yang sengaja dibisikan setan pada umat dalam shalatnya". (HR. Bukhari)

11. Seorang wanita yang tidak menutupi kepala dan kakinya dalam shalat.

Sabda Rasulullah, "Allah tidak menerima shalat wania yang sudah mencapai usia-haid, kecuali jika dia memakai jilbab (khimar)". (HR. Ahmad)

12. Berjalan di depan orang yang shalat baik orang yang dilewati di hadapanya itu sebagai imam, maupun sedang shalat sendirian dan melangka (melewati) di antara orang selama khutbah shalat Jum'at.

Rasulullah bersabda, "Jika orang yang melintas didepan orang yang sedang shalat mengetahui betapa beratnya dosa baginya melakukan hal itu, maka akan lebih baik baginya untuk menunggu dalam hitungan 40 tahun dari pada berjalan didepan orang shalat itu". (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun lewat diantara shaf orang yang sedang shalat berjamaah, maka hal itu diperbolehkan menurut jumhur bedasarkan hadits Ibnu Abbas :

"Saya datang dengan naik keledai, sedang saya pada waktu itu mendekati baligh. Rasulullah sedang shalat bersama orang –orang Mina menghadap kedinding. Maka saya lewat didepan sebagian shaf, lalu turun dan saya biarkan keledai saya, maka saya masuk kedalam shaf dan tidak ada seorangpun yang mengingkari perbuatan saya". (HR. Al-Jamaah).

Ibnu Abdil Barr berkata, "Hadits Ibnu Abbas ini menjadi pengkhususan dari hadits Abu Sa'id yang berbunyi "Jika salah seorang dari kalian shalat, jangan biarkan seseorangpun lewat didepannya". (Fathul Bari: 1/572)

13. Tidak mengikuti imam (pada posisi yang sama) ketika datang terlambat baik ketika imam sedang duduk atau sujud.

Sikap yang dibenarkan bagi seseorang yang memasuki masjid adalah segera mengikuti imam pada posisi bagaimanapun, baik dia sedang sujud atau yang lainnya.

14. Seseorang bermain dengan pakaian atau jam atau yang lainnya.
Hal ini mengurangi kekhusyu'an. Rasulullah melarang mengusap krikil selama shalat, karna dapat merusak kekhusyu'an, Beliau bersabda, "Jika salah seorang dari kalian sedang shalat, cegahlah ia untuk tidak menghapus krikil sehingga ampunan datang padanya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)

15. Menutup mata tanpa alasan

Hal ini makruh sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, "Menutup mata buka dari sunnah rasul ". Yang terbaik adalah, jika membuka mata tidak merusak kekhusyu'an shalat, maka lebih baik melakukannya. Namun jika hiasan, ornament dsn sebagainya disekitar orang yang shalat atau antara dirinya dengan kiblat mengganggu konsentrasinya, maka dipoerbolehkan menutup mata. Namun demikian pernyataan untuk melakukan hal itu dianjurkan (mustahab) pada kasus ini. Wallahu A'lam.

16. Makan atau minum atau tertawa.

"Para ulama berkesimpulan orang yang shalat dilarang makan dan minum. Juga ada kesepakatan diantara mereka bahwa jika seseorang melakukannya dengan sengaja maka ia harus mengulang shalatnya.

17. Mengeraskan suara hingga mengganggu orang-orang di sekitarnya.
Ibnu Taimuiyah menyatakan, "Siapapun yang membaca Al-Qur'an dan orang lain sedang shlat sunnah, maka tidak dibenarkan baginya untuk membacanya dengan suara keras karena akan mengganggu mereka. Sebab, Nabi pernah meninggalkan sahabat-sahabatnya ketika mereka shalat ashar dan Beliau bersabda, "Hai manusia setiap kalian mencari pertolongan dari Robb kalian. Namun demikian, jangan berlebihan satu sama lain dengan bacaan kalian".

18. Menyela di antara orang yang sedang shalat.
Perbuatan ini teralarang, karena akan mengganggu. Orang yang hendak menunaikan shalat hendaknya shalat pada tempat yang ada. Namun jika ia melihat celah yang memungkinkan baginya untuk melintas dan tidak mengganggu, maka hal ini di perbolehkan. Larangan ini lebih ditekankan pada jama'ah shalat Jum'at, hal ini betul-betul dilarang. Nabi bersabda tentang mereka yang melintasi batas shalat, "Duduklah! Kamu mengganggu dan terlambat datang".

19. Tidak meluruskan shaf.

Nabi bersabda, "Luruskan shafmu, sesungguhnya meluruskan shaf adalah bagian dari mendirikan shalat yang benar" (HR. Bukhari dan Muslim).

20. Mengangkat kaki dalam sujud.

Hal ini bertentangan dengan yang diperintahkan sebagaimana diriwayatkan dalam dua hadits shahih dari Ibnu Abbas, "Nabi telah memerintah bersujud dengan tujuh anggota tubuh dan tidak mengangkat rambut atau dahi (termasuk hidung), dua telapak tangan, dua lutut, dan dua telapak kaki." Jadi seseorang yang shalat (dalam sujud), harus dengan dua telapak kaki menyentuk lantai dan menggerakan jari-jari kaki menghadap kiblat. Tiap bagian kaki harus menyentuk lantai. Jika diangkat salah satu dari kakinya, sujudnya tidak benar. Sepanjang dia lakukan dalam sujud.

21. Melatakkan tangan kiri dia atas tangan kanan dan memposisikannya di leher.
Hal ini berlawanan dengan sunnah karena Nabi meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan meletakkan keduanya di dada beliau. Ini hadits hasan dari beberapa sumber yang lemah di dalamya. Tapi dalam hubungannya saling menguatkan di antara satu dengan lainnya.

22. Tidak berhati-hati untuk melakukan sujud dengan tujuh angota tubuh(seperti dengan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutuk dan jari-jari kedua telapak kaki).

Rasulallah bersabda, "Jika seorang hamba sujud, maka tujuh anggota tubuh harus ikut sujud bersamanya: wajah, kedua telapak tangan kedua lutut dan kedua kaki". (HR. Muslim)

23. Menyembunyikan persendian tulang dalam shalat.

Ini adala perbuatan yang tidak dibenarkan dalam shalat. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits dengan sanad yang baik dari Shu'bah budak Ibnu Abbas yang berkata, "Aku shalat di samping Ibnu Abbas dan aku menyembunyikan persedianku." Selesai shalat di berkata, "Sesungguhnya kamu kehilangan ibumu!, karena menyembunyikan persendian ketika kamu shalat!".

24. Membunyikan dan mepermainkan antar jari-jari (tasbik) selama dan sebelum shalat.
Rasulallah, "Jika salah seorang dari kalian wudhu dan pergi kemasjid untuk shalat, cegahlah dia memainkan tangannya karena (waktu itu) ia sudah termasuk waktu shalat." (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi)

25. Menjadikan seseorang sebagai imam, padahal tidak pantas, dan ada orang lain yang lebih berhak.
Merupakan hal yang penting, bahwa seorang imam harus memiliki pemahaman tentang agama dan mampu membaca Al-Qur'an dengan benar. Sebagaimana sabda Nabi "Imam bagi manusia adalah yang paling baik membaca Al-Qur'an" (HR. Muslim)

26. Wanita masuk ke masjid dengan mempercantik diri atau memakai harum-haruman.
Nabi bersabda, "Jangan biarkan perempuan yang berbau harum menghadiri shalat isya bersama kita." (HR. Muslim)

27. Shalat dengan pakaian yang bergambar, apalagi gambar makhluk bernyawa.
Termasuk pakaian yang terdapat tulisan atau sesuatu yang bisa merusak konsentrasi orang yang shalat di belakangnya.

28. Shalat dengan sarung, gamis dan celana musbil melebihi mata kaki).

Banyak hadits rasulullah yang meyebutkan larangan berbuat isbal diantaranya :

A. Rasulullah bersabda : sesungguhnya allah tidak menerima shalat seseorang lelaki yang memakain sarung dengan cara musbil." (HR. Abu Dawud (1/172 no. 638)

B. Rasulullah bersabda : Allah tidak (akan) melihat shalat seseorang yang mengeluarkan sarungnya sampai kebawah (musbil) dengan perasaan sombong." (Shahih Ibnu Khuzaimah 1/382)

C. Rasulullah bersabda : "Sarung yang melebihi kedua mata kaki, maka pelakunya di dalam neraka." (HR.Bukhari : 5887)

29. Shalat di atas pemakaman atau menghadapnya.

Rasulullah berabda, "Jangan kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena sesungguhnya aku telah melarang kalian melakukan hal itu." (HR. Muslim : 532)

30. Shalat tidak menghadap ke arah sutrah (pembatas).

Nabi melarang perbuatan tersebut seraya bersabda : "Apabila salah seorang diantara kalian shalat menghadap sutrah, hendaklah ia mendekati sutahnya sehingga setan tidak dapat memutus shalatnya. (Shahih Al-Jami' : 650)

Inilah contoh perbuatan beliau "Apabila beliau shalat di tempat terbuka yang tidak ada seorangpun yang menutupinya, maka beliau menamcapkan tombak di depannya, lalu shalat menghadap tombak tersebut, sedang para sahabat bermakmum di belakangnya. Beliau tidak membiarkan ada sesuatu yang lewat di antara dirinya dan sutrah tresebut."

04.14 Share:

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد

     Saat kita mengikuti pengajian rutin, baik itu mendengar nasehat, mengaji Alqur'an, dan mengaji Hadits, kita selalu menjumpai penjelasan yang berhubungan dengan Surga dan Neraka. Surga adalah tempatnya segara kenikmatan dan kebahagiaan yang 'pol' dan kekal abadi selama-lamanya. Demikian sebaliknya, Neraka adalah tempatkan segara siksaan dan segala penderitaan yang 'pol' dan kekal abadi selama-lamanya.

Kalau dikaji tentang Surga, tentu kita terbayang akan kenikmatannya yang luar biasa. Yaitu kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah diangan-angankan oleh hati manusia. Bahkan ada dalil yang menyatakan bahwa setapak di Surga itu lebih baik dibandingkan dengan Dunia seisinya. Wah, tentu kenikmatan di Surga itu sangat jauh sekali dari kenikmatan apa pun yang bisa kita bayangkan. Allohumma Innii As'alukal Jannata wama qorroba ilaiha min qoulin au 'amalin..

Kalau dikaji tentang Neraka, tentu kita sangat takut dan ngeri sekali dengan berbagai macam siksaan yang telah diceritakan oleh Nabi dalam haditsnya. Dan Neraka itu adalah dunia api, dari depan, belakang, samping kiri, samping kanan, atas, dan bahwa semuanya ditutupi oleh api. Belum lagi malaikat-malaikat yang kejam-kejam yang menyiksa penghuni Neraka tanpa ampun! Mulai dari Neraka paling rendah yang sudah dijatahkan untuk Pamannya Nabi, hingga neraka yang paling mengerikan sekali. Sampai-sampai di suatu Hadits Nabi menceritakan bahwa di dalam Neraka Jahannam itu ada sebuah jurang. Karena saking mengerikannya siksaan di dalam jurang tersebut, sampai-sampai Neraka sendiri minta perlindungan dari Allah dari jurang tersebut. Na'udzubillahi Minan-Naar..



Nah, ada satu hal lagi yang perlu kita kaji bersama mengenai dua tempat yang disediakan Alloh di Akhirot sana, yaitu Surga dan Neraka, yaitu mengenai lamanya waktu untuk bertempat di Surga atau di Neraka. Baik di Alqur'an maupun Hadits, tidak ada satu pun dalil menerangkan bahwa penghuni Surga atau penghuni neraka hanya akan bertempat sementara di tempatnya masing-masin (Surga atau Neraka) setelah 'Kematian' ditiadakan. Semua dalil tentang Surga dan Neraka menjelaskan bahwa di Surga atau di Neraka adalah Kekal Selama-lamanya ==>> Kholidina Fiiha Abada..

Pertanyaannya adalah.. Berapa lamakah hitungan waktu 'Kholidina Fiiha Abada' itu?

Mungkin kalau kita membayangkan hasilnya, akan sangatlah rumit. Namun, para penasehat terdahulu, sesepuh-sesepuh kita pernah memberikan sebuah gambaran seperti ini...

Kalau seumpama, tempat dimana anda duduk sekarang ini, dijadikan sebagai ANGKA SATU (1), kemudian dari sebelah kanan anda ke arah barat di tulis ANGKA NOL (0) sejajar dengan ANGKA SATU tadi hingga mentok sampai ke arah barat bumi, dan tembus berputar hingga ke arah Timur dan diteruskan hingga ke ANGKA SATU tadi (di tempat anda berada), nah.. kira-kira ada berapabanyakkah ANGKA NOL-nya?

Ditambah lagi, kembali ANGKA NOL ditulis lagi dari arah UTARA sampai mentok hingga memutari bumi sampai tembus ke arah SELATAN dan diteruskan lagi hingga kembali ke ANGKA SATU (di tempat anda berada), berapa banyakkah ANGKA NOL-nya?

Ditambah lagi, seisi bumi ini di tulis ANGKA NOL semua hingga penuh! Berapa banyakkah keseluruhan ANGKA NOL-nya?

Jika satuan dari ANGKA SATU dan ANGKA NOL tadi adalah 'TAHUN' berarti...
Kalau NOL-nya tiga                  = 1000 (Seribu) Tahun
Kalau NOL-nya enam               = 1.000.000 (Satu Juta) Tahun
Kalau NOL-nya sembilan          = 1.000.000.000 (Satu Milyar) Tahun
Kalau NOL-nya dua belas        = 1.000.000.000.000 (Seribu Milyar) Tahun

Jadi, Kalau ANGKA NOL-nya sepenuh bumi, berapakah hitungannya??????? Berapa tahun-kah hasilnya???
Jika bisa dihitung, itu pun BELUM MENYAMAI HITUNGAN KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA 'KHOLIDIINA FIIHA ABADAA'

Kesimpulannya : TIDAK TERBATAS WAKTUNYA!

Maka, beruntunglah orang-orang Iman yang menjadi Penghuni Surga. Dan sangat-sangatlah CELAKA orang yang menjadi PENGHUNI NERAKA!

Coba kita renungkan sejenak, seumpama di NERAKA itu ada batas waktunya, maka sudah tentu orang-orang yang sekarang merasakan siksa kubur itu masih bisa tertawa karena masih ada harapan bahwa siksaan mereka akan selesai. Namun, kenyataanya tidak demikian...

Bukankah pantas kita mengorbankan umur kita yang hanya 60-70 tahun (sesuai sabda Nabi) untuk mendapatkan kenikmatan Surga yang KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA??

Bukankah sangat RUGI, orang yang menikmati kenikmatan Dunia yang TERBATAS dalam waktu 60-70 tahun dan akhirnya dimasukkan ke dalam NERAKA dan disiksa KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA?

Renungkanlah wahai Saudaraku... renungkanlah...

Semoga Alloh menetapkan kita dalam keimanan sampai ajal kita masing-masing... Amin...

Berapakah Hitungan 'Kholidiina Fiihaa Abadaa'?

Posted by Unknown  |  No comments


إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد

     Saat kita mengikuti pengajian rutin, baik itu mendengar nasehat, mengaji Alqur'an, dan mengaji Hadits, kita selalu menjumpai penjelasan yang berhubungan dengan Surga dan Neraka. Surga adalah tempatnya segara kenikmatan dan kebahagiaan yang 'pol' dan kekal abadi selama-lamanya. Demikian sebaliknya, Neraka adalah tempatkan segara siksaan dan segala penderitaan yang 'pol' dan kekal abadi selama-lamanya.

Kalau dikaji tentang Surga, tentu kita terbayang akan kenikmatannya yang luar biasa. Yaitu kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah diangan-angankan oleh hati manusia. Bahkan ada dalil yang menyatakan bahwa setapak di Surga itu lebih baik dibandingkan dengan Dunia seisinya. Wah, tentu kenikmatan di Surga itu sangat jauh sekali dari kenikmatan apa pun yang bisa kita bayangkan. Allohumma Innii As'alukal Jannata wama qorroba ilaiha min qoulin au 'amalin..

Kalau dikaji tentang Neraka, tentu kita sangat takut dan ngeri sekali dengan berbagai macam siksaan yang telah diceritakan oleh Nabi dalam haditsnya. Dan Neraka itu adalah dunia api, dari depan, belakang, samping kiri, samping kanan, atas, dan bahwa semuanya ditutupi oleh api. Belum lagi malaikat-malaikat yang kejam-kejam yang menyiksa penghuni Neraka tanpa ampun! Mulai dari Neraka paling rendah yang sudah dijatahkan untuk Pamannya Nabi, hingga neraka yang paling mengerikan sekali. Sampai-sampai di suatu Hadits Nabi menceritakan bahwa di dalam Neraka Jahannam itu ada sebuah jurang. Karena saking mengerikannya siksaan di dalam jurang tersebut, sampai-sampai Neraka sendiri minta perlindungan dari Allah dari jurang tersebut. Na'udzubillahi Minan-Naar..



Nah, ada satu hal lagi yang perlu kita kaji bersama mengenai dua tempat yang disediakan Alloh di Akhirot sana, yaitu Surga dan Neraka, yaitu mengenai lamanya waktu untuk bertempat di Surga atau di Neraka. Baik di Alqur'an maupun Hadits, tidak ada satu pun dalil menerangkan bahwa penghuni Surga atau penghuni neraka hanya akan bertempat sementara di tempatnya masing-masin (Surga atau Neraka) setelah 'Kematian' ditiadakan. Semua dalil tentang Surga dan Neraka menjelaskan bahwa di Surga atau di Neraka adalah Kekal Selama-lamanya ==>> Kholidina Fiiha Abada..

Pertanyaannya adalah.. Berapa lamakah hitungan waktu 'Kholidina Fiiha Abada' itu?

Mungkin kalau kita membayangkan hasilnya, akan sangatlah rumit. Namun, para penasehat terdahulu, sesepuh-sesepuh kita pernah memberikan sebuah gambaran seperti ini...

Kalau seumpama, tempat dimana anda duduk sekarang ini, dijadikan sebagai ANGKA SATU (1), kemudian dari sebelah kanan anda ke arah barat di tulis ANGKA NOL (0) sejajar dengan ANGKA SATU tadi hingga mentok sampai ke arah barat bumi, dan tembus berputar hingga ke arah Timur dan diteruskan hingga ke ANGKA SATU tadi (di tempat anda berada), nah.. kira-kira ada berapabanyakkah ANGKA NOL-nya?

Ditambah lagi, kembali ANGKA NOL ditulis lagi dari arah UTARA sampai mentok hingga memutari bumi sampai tembus ke arah SELATAN dan diteruskan lagi hingga kembali ke ANGKA SATU (di tempat anda berada), berapa banyakkah ANGKA NOL-nya?

Ditambah lagi, seisi bumi ini di tulis ANGKA NOL semua hingga penuh! Berapa banyakkah keseluruhan ANGKA NOL-nya?

Jika satuan dari ANGKA SATU dan ANGKA NOL tadi adalah 'TAHUN' berarti...
Kalau NOL-nya tiga                  = 1000 (Seribu) Tahun
Kalau NOL-nya enam               = 1.000.000 (Satu Juta) Tahun
Kalau NOL-nya sembilan          = 1.000.000.000 (Satu Milyar) Tahun
Kalau NOL-nya dua belas        = 1.000.000.000.000 (Seribu Milyar) Tahun

Jadi, Kalau ANGKA NOL-nya sepenuh bumi, berapakah hitungannya??????? Berapa tahun-kah hasilnya???
Jika bisa dihitung, itu pun BELUM MENYAMAI HITUNGAN KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA 'KHOLIDIINA FIIHA ABADAA'

Kesimpulannya : TIDAK TERBATAS WAKTUNYA!

Maka, beruntunglah orang-orang Iman yang menjadi Penghuni Surga. Dan sangat-sangatlah CELAKA orang yang menjadi PENGHUNI NERAKA!

Coba kita renungkan sejenak, seumpama di NERAKA itu ada batas waktunya, maka sudah tentu orang-orang yang sekarang merasakan siksa kubur itu masih bisa tertawa karena masih ada harapan bahwa siksaan mereka akan selesai. Namun, kenyataanya tidak demikian...

Bukankah pantas kita mengorbankan umur kita yang hanya 60-70 tahun (sesuai sabda Nabi) untuk mendapatkan kenikmatan Surga yang KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA??

Bukankah sangat RUGI, orang yang menikmati kenikmatan Dunia yang TERBATAS dalam waktu 60-70 tahun dan akhirnya dimasukkan ke dalam NERAKA dan disiksa KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA?

Renungkanlah wahai Saudaraku... renungkanlah...

Semoga Alloh menetapkan kita dalam keimanan sampai ajal kita masing-masing... Amin...

04.03 Share:
Get updates in your email box
Complete the form below, and we'll send you the best coupons.

Deliver via FeedBurner

Labels

Text Widget

Artikel Lain nya

back to top